Cenderung menirukan apa yang dia lihat dan dengar

Alex Murgito *)

Menurut pendapat para ahli pendidikan dan psikologi, anak cenderung menirukan apa yang dia lihat dan dengar. Dia tidak akan melakukan sesuatu yang tidak pernah dia lihat dan dia dengar.

Sebagai ilustrasi sederhana, anak yang terlahir dalam kondisi tuna rungu, tidak akan bisa berbicara (berucap) sesuai dengan bahasa di lingkungannya. HAl ini karena dia tidak pernah merekam bahasa yang seharusnya digunakan dan didengarkan.

Seorang anak yang terlahir normal, jika tidak mengalami gangguan pada alat ucap, bisa berbicara dan berkomunikasi selayaknya lingkungan tempat dia tumbuh. Hal ini karena telinganya bisa merekam apa yang ada di sekitarnya. Hal itu juga terjadi pada penglihatan.
Peniruan itu, jika berlangsung terus menerus akan terekam pada alam bawah sadarnya dan terbawa sampai dia dewasa. kelak, sesuatu yang terekam di alam bawah sadar itu yang akan mempengaruhinya dalam menentukan keputusan yang harus diambil.
Alhamdulillah jika yang didengar dan dilihat adalah sesuatu yang positif, seperti bacaan Alquran, kata-kata yang memotivasi, cara bekerja keras, dan beribadah, dan lain-lain, maka, alam bawah sadarnya akan merekam sesuatu yang positif. akhirnya akan membentuk sikap positif. Sebaliknya, jika yang dia lihat dan dengar adalah hal negatif, seperti kata-kata menghujat, ekspresi marah, kata-kata kotor, dan lain-lain, tentu yang terekam pada alam bawah sadarnya adalah hal yang demikian.
MAna yang lebih bermanfaat untuk masa kehidupan ketika dia dewasa? Tentu rekaman yang positif karena itu akan membentuk sikap dan pola pikir positif.
Dengan kondisi kehidupan bangsa yang demikian (banyak hal negatif di lingkungan, seperti kata-kata kotor, mental tidak bisa menerima kekalahan, bohong, membuang sampah sembarangan, pengecut, dan sebagainya), Apakah hal positif bisa direkam?
Bisa. caranya adalah: pertama, buat kondisi positif pada lingkungan anak, mulai dari sekolah hingga rumah dan tempat bermain, seperti disiplin waktu, menjaga kebersihan, selalu melakukan yang positif, tidak berbicara kotor, dan sebagainya.
kedua, jauhkan perilaku negatif dari diri anak. salah satu caranya adalah dengan
meminimalkan hubungan si anak dngan akses televisi, media massa, dan berbagai sumber hal negatiuf.
Untuk mendapatkan kedua hal itu, sekolah dengan sistem fullday school sangat membantu.
Mengapa? alasannya, sekolah tersebut mampu menjaga anak dari pengaruh negatif karena hidup anak pada saat sadar dihabiskan dengan sistem yang positif dan mendukung perilaku positif. Sehingga hal negatif yang membahaykan tidak terekam oleh alam bawah sadar anak.

*) Guru SDBI Al Hikmah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: