Sebuah Barang Langka Yang Bernama Kejujuran

Siti Muniroh *)

Shock, marah, kecewa, malu, sedih dan segala perasaan bercampur aduk menjadi satu. Itu yang saya dan teman-teman rasakan saat itu, saat anak-anak kami dengan segala kejujurannya mengaku bahwa selama ini mereka kerapkali berbuat kecurangan dalam ulangan.
Bahkan muka salah satu teman saya yang biasanya tampak tenang dan sangat sabar, saat itu tampak merah padam. Bagaimana tidak? Saya tahu betapa bangganya beliau terhadap anak-anak didiknya, anak-anak yang punya kemampuan sangat baik, bahkan bisa dikatakan lebih dari teman-temen mereka di kelas lainnya. Mereka yang selama ini menjadi tonggak harapan kami. Tetapi, kenyataan pahit yang harus kami hadapi saat itu, justru mereka yang paling banyak melakukan kecurangan, mereka yang paling lihai bagaimana cara melakukan kecurangan dalam ulangan tanpa harus ketahuan.

Tetapi seperti kata pepatah, sepandai-pandai tupai melompat, sepandai-pandai kuda berlari, suatu saat pasti akan terjatuh juga. Serapat-rapatnya bangkai busuk disembunyikan pasti akan tercium juga baunya. Mungkin itu yang sedang terjadi saat itu, kelihaian mereka berbuat kecurangan dalam ulangan terbongkar sudah.

“NYONTEK”, mungkin kata ini tidak asing bagi anda, dan bisa jadi anda juga termasuk salah satu orang yang pernah melakukannya. Bahkan mungkin bagi sebagian orang karena saking terbiasanya, perbuatan satu ini menjadi sangat biasa dan seolah-olah menjadi halal dan sah-sah saja untuk dilakukan. Apalagi saat musim ujian seperti saat ini, nyontek justru menjadi trend dan tradisi. Lebih tragisnya lagi kalau inisiatif untuk nyontek tidak hanya datang dari siswa itu sendiri, tapi atas inisiatif gurunya. Na’udzubillahi min dzalik.

“PENCURI”, itu kata pertama yang disebutkan teman saya di hadapan anak-anak didik kami yang tertunduk malu dan takut seperti maling ayam yang tertangkap basah. Di sebuah ruangan yang cukup besar itu mereka berkumpul, duduk diam, hening tak ada satupun yang berani berbicara. Padahal biasanya ruangan itu tidak pernah sesunyi itu. Mereka seperti terdakwa yang sedang diadili dan siap menerima vonis apapun yang akan dijatuhkan kepada mereka.

Ya, Pencuri adalah sebutan bagi orang yang mengambil sesuatu yang bukan haknya untuk dimilikinya. Masih mending kalau yang diambil adalah sebuah barang, ayam misalnya, ketika sadar dan bertaubat pencuri itu bisa mengembalikan kepada pemiliknya, banyak memohon ampunan kepada Allah selesai masalah. Tetapi kalau yang dicuri berupa jawaban, nilai, prestasi, hak orang lain, bagaimana cara menggalikannya? Mereka ditanya bagaimana mengembalikan hak teman-teman mereka yang tergeser ke bawah karena mereka jujur, padahal mestinya mereka yang semestinya ada di kelas atas, kelas yang mereka tempati sekarang dengan hasil kecurangan. Bagaimana pula dengan para orang tua yang selama ini mereka bohongi mentah-mentah, apa mereka akan meminta maaf kepada mereka satu-persatu?

Mereka hanya terdiam, semakin menunduk, semakin merasa bersalah. Apalagi ketika diingatkan bagaimana orang tua mereka kelak mempertanggungjawabkan perbuatan mereka di hadapan Allah? Bagaimana kami para guru mereka kelak menjawab jika Allah merpertanyakannya kelak di hari kiamat? Bukankah mereka tangung jawab orang tua, tanggung jawab kami para pendidik yang menjadi orang tua kedua mereka untuk mendidik mereka dengan baik? Mereka semakin terdiam, bahkan beberapa dari mereka tampak meneteskan air mata, menangis lirih. Alhamdulillah…mudah-mudahan itu benar-benar air mata penyesalan, air mata taubat yang akan mengikis habis dosa-dosa mereka. Dengan lantunan alQur’an yang mengalir dari bibir mereka, mereka berurai airmata.
Anak-anakku, mudah-mudahan setelah ini kalian benar-benar menjadi hamba-hamba Allah yang jujur. Jangan pernah kalian mengotori hidup kalian dengan kecurangan, jangan kalian campurkan kebenaran dengan kebatilan. Jangan biarkan nila setitik merusak susu sebelanga. Berapapun yang halal akan menjadi haram jika sedikit saja kalian campurkan di dalamnya sesuatu yang haram. Orang yang baik bukan yang tidak pernah melakukan kesalahan, tetapi orang yang mau meyadari kesalahnnya dan memperbaikinya. Dan mudah-mudahan kalian semua adalah orang-orang yang seperti itu, yang mau menyadari kesalahan dan memperbaikinya.

Bagi sebagian orang mungkin yang kami lakukan berlebihan, terlebih bagi anda yang menganggap nyontek adalah hal biasa, bukan sesuatu yang besar. Tetapi bagi kami, nyontek bukan hal yang kecil, tetapi sesuatu yang sangat besar dan patut untuk dipermasalahkan. Membiarkan anak-anak kami menyontek saat ulangan atau ujian sama halnya membiarkan mereka menjadi pencuri, menjadi maling. Apa jadinya mereka kelak jika sejak kecil mereka sudah terbiasa berbuat curang, terbiasa mencuri, terbiasa mengambil sesuatu yang bukan haknya, terbiasa mengambil hak orang lain?
Mungkin para pejabat yang saat ini menjadi koruptor bukan sepenuhnya salah mereka, bisa jadi kita pendidik ikut andil di dalamnya. Mungkin ketika mereka masih kecil, ketika mereka masih di bangku sekolah, kita para pendidik lupa mengingatkan mereka pentingnya sebuah kejujuran. Kita biarkan saja mereka ketika tahu mereka berbuat curang. Bahkan terkadang untuk sebuah kata yang bernama “LULUS”, justru kita yang mengajarkan mereka untuk berbuat curang. Astaghfirullah…mudah-mudahan Engkau ampuni kesalahan kami ya Allah.

Yang kami lakukan hari itu hanyalah sedikit dari usaha kami untuk mengingatkan anak-anak kami akan pentingnya sebuah kejujuran. Kami tidak ingin kejujuran menjadi barang langka. Kami hanya ingin jika kelak menjadi apapun mereka, mereka menjadi profeional-profesional yang jujur. Kami tidak ingin mereka menjadi orang-orang yang bisa menghalalkan segala cara untuk mendaptkan keinginan mereka. Kami ingin mereka menjadi putera-putera bangsa yang kelak akan membangun bangsa ini menjadi bangsa yang lebih baik. Kami tidak ingin anak-anak kami menjadi para koruptor yang akan menghancurkan negeri sendiri. Naudzubillah…

Akhir kata, saya teringat sebuah ayat “Faman ya’mal mitsqala dzarratin khairay yarah, waman ya’mal mitsqaala dzarratin syarray yarah.”

“Maka barangsiapa berbuat kebaikan sebarat zarrah (biji sawi/atom)) pun, niscaya kelak dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa berbuat kejahatan seberat zarrah (biji sawi/atom) pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.” (QS. Al Zalzalah: 7-8)

Wallahu a’lam bishshawaab.

*) Guru SDBI Al Hikmah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: